Minggu, 27 Mei 2012
Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi
TEMPO.CO , Jakarta - Intelijen Rusia berpikir Sukhoi Superjet 100 yang jatuh pada joy flight 9 Mei 2012 di Gunung Salak Bogor, Indonesia, kemungkinan disabotase Amerika Serikat. Hal ini ditulis salah satu media besar di Rusia pada Kamis, 24 Mei 2012.
Pada salah satu artikelnya, tabloid Rusia Komsomolskaya Pravda menulis judul 'Amerika yang Akibatkan Kecelakaan Sukhoi?'. Tabloid itu menyebutkan beberapa petugas yang tidak disebutkan namanya mengatakan pesaing penerbangan Rusia itu ingin melihat penerbangan tersebut gagal.
Pemerintah Rusia dan media di sana punya sejarah mengambinghitamkan negara lain atau orang asing atas kecelakaan maupun musibah yang mengaitkan Rusia.
Seorang petinggi angkatan laut Rusia pernah menyalahkan Angkatan Laut Amerika Serikat atas tragedi Agustus 2000 kala kapal selam nuklir Kursk tenggelam dan menewaskan 118 pelaut. Hal itu karena ada beberapa kapal Amerika Serikat yang sedang berlatih di daerah Laut Barents. Contoh lain terjadi saat petinggi Agen Luar Angkasa Rusia Yury Kotev mengatakan satelit Mars yang tersangkut di orbit Bumi pada Rusia November lalu gagal karena aktivitas radar Amerika Serikat di daerah itu.
Seorang agen intelijen tentara ini mengatakan kepada Komsomolskaya Pravda bahwa kantor mereka, The GRU, sudah lama melacak aktivitas pesawat Amerika Serikat di bandara Jakarta.
"Kita tahu bahwa mereka (Amerika) memiliki banyak teknologi khusus yang juga kita miliki yang bisa mengganggu sinyal dari darat atau menyebabkan pembacaan parameter tidak berfungsi,” ujar pejabat itu.
»Mungkin ini adalah salah satu alasan jatuhnya pesawat," kata pejabat itu. Penyelidik Indonesia sampai saat ini masih menyelidiki mencari penyebab jatuhnya pesawat itu.
Di Washington, juru bicara Pentagon George Little membantah tudingan itu. George Little menganggap tuduhan itu omong kosong.
Minggu, 20 Mei 2012
ngorok lebih berbahaya pada orang yang ngorok
Ngorok atau mendengkur saat tidur tak cuma mengurangi kualitas tidur. Berbagai penelitian mengaitkannya dengan risiko tekanan darah tinggi, bahkan penelitian terbaru membuktikan bahwa ngorok meningkatkan risiko kematian akibat kanker.
Selama ini, sleep apnea sendiri sudah sering dikaitkan dengan risiko berbagai penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi dan juga serangan jantung. Namun seberapa besar pengaruhnya terhadap kanker, hingga saat ini belum banyak yang meneliti.
Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di University of Wisconsin ini menunjukkan adanya kaitan antara sleep apnea dengan risiko kematian akibat kanker. Sleep apnea atau henti napas saat tidur membuat penderita kanker lebih rentan mengalami kematian mendadak.
Hasil pengamatan terhadap 1.500 penderita kanker dalam kurun 22 tahun menunjukkan bahwa sleep apnea atau henti napas saat tidur yang terjadi sebanyak 5-15 kali/jam bisa meningkatkan risiko kematian hingga 10 persen. Sleep apnea dengan tingkat keparahan sedang yakni 15-30 kali/jam meningkatkan risiko kematian mendadak sebanyak 2 kali lipat sedangkan jika terjadi lebih dari 30 kali/jam maka peningkatan risikonya mencapai 5 kali lipat.
"Sleep apnea berhubungan dengan penyakit kardiovaskular, penyakit jantung,, stroke dan hipertensi. Kini kami menemukan risiko baru, yakni kematian akibat kanker," kata Dr Javier Nieto yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Healthday, Senin (21/5/2012).
Risiko kematian pada penderita kanker yang mengalami ngorok atau sleep apnea terjadi karena kadar dalam darah oksigen menurun. Penurunan ini terjadi karena saluran napas menyempit, sehingga aliran udara tidak lancar dan bahkan sampai mengalami henti napas beberapa kali selama tidur.
Berkurangnya oksigen diyakini bisa membuat pertumbuhan sel-sel kanker meningkat, karena harus bersaing dengna sel-sel normal lainnya untuk bisa mendapatkan oksigen sebanyak-banyaknya. Hal ini terbukti juga dalam penelitian di University of Barcelona, yang menunjukkan bahwa tingkat keparahan kanker kulit cenderung meningkat dalam kondisi kekurangan oksigen.
Selama ini, sleep apnea sendiri sudah sering dikaitkan dengan risiko berbagai penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi dan juga serangan jantung. Namun seberapa besar pengaruhnya terhadap kanker, hingga saat ini belum banyak yang meneliti.
Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di University of Wisconsin ini menunjukkan adanya kaitan antara sleep apnea dengan risiko kematian akibat kanker. Sleep apnea atau henti napas saat tidur membuat penderita kanker lebih rentan mengalami kematian mendadak.
Hasil pengamatan terhadap 1.500 penderita kanker dalam kurun 22 tahun menunjukkan bahwa sleep apnea atau henti napas saat tidur yang terjadi sebanyak 5-15 kali/jam bisa meningkatkan risiko kematian hingga 10 persen. Sleep apnea dengan tingkat keparahan sedang yakni 15-30 kali/jam meningkatkan risiko kematian mendadak sebanyak 2 kali lipat sedangkan jika terjadi lebih dari 30 kali/jam maka peningkatan risikonya mencapai 5 kali lipat.
"Sleep apnea berhubungan dengan penyakit kardiovaskular, penyakit jantung,, stroke dan hipertensi. Kini kami menemukan risiko baru, yakni kematian akibat kanker," kata Dr Javier Nieto yang memimpin penelitian ini seperti dikutip dari Healthday, Senin (21/5/2012).
Risiko kematian pada penderita kanker yang mengalami ngorok atau sleep apnea terjadi karena kadar dalam darah oksigen menurun. Penurunan ini terjadi karena saluran napas menyempit, sehingga aliran udara tidak lancar dan bahkan sampai mengalami henti napas beberapa kali selama tidur.
Berkurangnya oksigen diyakini bisa membuat pertumbuhan sel-sel kanker meningkat, karena harus bersaing dengna sel-sel normal lainnya untuk bisa mendapatkan oksigen sebanyak-banyaknya. Hal ini terbukti juga dalam penelitian di University of Barcelona, yang menunjukkan bahwa tingkat keparahan kanker kulit cenderung meningkat dalam kondisi kekurangan oksigen.
Langganan:
Komentar (Atom)
